Minggu, 31 Maret 2013

pendidikan masa pendudukan jepang


SEJARAH PENDIDIKAN GURU DI INDONESIA MASA PENDUDUKAN JEPANG
Didorong semangat untuk mengembangkan pengaruh dan wilayah sebagai bagian dari rencana membentuk Asia Timur Raya yang meliputi Manchuria, Daratan China, Kepulauan Filiphina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Indo China dan Rusia di bawah kepemimpinan Jepang, negera ini mulai melakukan ekspansi militer ke berbagai negara sekitarnya tersebut. Dengan konsep “Hakko Ichiu” (Kemakmuran Bersama Asia Raya) dan semboyan “Asia untuk Bangsa Asia”, bangsa fasis inipun menargetkan Indonesia sebagai wilayah potensial yang akan menopang ambisi besarnya. Dengan konteks sejarah dunia yang menuntut dukungan militer kuat, Jepang mengelola pendidikan di Indonesia pun tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan di masa pendudukan Jepang sangat dipengaruhi motif untuk mendukung kemenangan militer dalam peperangan Pasifik.
Setelah Februari 1942 menyerang Sumatera Selatan, Jepang selanjutnya menyerang Jawa dan akhirnya memaksa Belanda menyerah pada Maret 1942. Sejak itulah Jepang kemudian menerapkan beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi sistem pendidikan di era kemerdekaan. Hal-hal tersebut antara lain:
(1) Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa Belanda;
 (2) Adanya integrasi sistem pendidikan dengan dihapuskannya sistem pendidikan berdasarkan kelas sosial di era penjajahan Belanda.
Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
 (1) Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
(2) Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
(3) Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
(4) Pendidikan Tinggi.
Guna memperoleh dukungan tokoh pribumi, Jepang mengawalinya dengan menawarkan konsep Putera Tenaga Rakyat di bawah pimpinan Soekarno, M. Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan K.H. Mas Mansur pada Maret 1943. Konsep ini dirumuskan setelah kegagalan the Triple Movement yang tidak menyertakan wakil tokoh pribumi. Tetapi PTR akhirnya mengalami nasib serupa setahun kemudian. Pasca ini, Jepang tetap merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai penasehat bidang pendidikan mereka. Upaya Jepang mengambil tenaga pribumi ini dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem pendidikan mereka di Manchuria dan China yang menerapkan sistem Nipponize (Jepangisasi). Karena itulah, di Indonesia mereka mencobakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum berorientasi lokal. Sekalipun patut dicatat bahwa pada menjelang akhir masa pendudukannya, ada indikasi kuat Jepang untuk menerapkan sistem Nipponize kembali, yakni dengan dikerahkannya Sendenbu (propagator Jepang) untuk menanamkan ideologi yang diharapkan dapat menghancurkan ideologi Indonesia Raya.
Jepang juga memandang perlu melatih guru-guru agar memiliki keseragaman pengertian tentang maksud dan tujuan pemerintahannya. Materi pokok dalam latihan tersebut antara lain: (1) Indoktrinasi ideologi Hakko Ichiu;
(2) Nippon Seisyin, yaitu latihan kemiliteran dan semangat Jepang;
(3) Bahasa, sejarah dan adat-istiadat Jepang;
(4) Ilmu bumi dengan perspektif geopolitis; serta
(5) Olaharaga dan nyanyian Jepang. Sementara untuk pembinaan kesiswaan, Jepang mewajibkan bagi setiap murid sekolah untuk rutin melakukan beberapa aktivitas berikut ini: (1) Menyanyikan lagi kebangsaan Jepang, Kimigayo setiap pagi;
(2) Mengibarkan bendera Jepang, Hinomura dan menghormat Kaisar Jepang, Tenno Heika setiap pagi;
(3) setiap pagi mereka juga harus melakukan Dai Toa, bersumpah setia kepada cita-cita Asia Raya;
(4) Setiap pagi mereka juga diwajibkan melakukan Taiso, senam Jepang;
(5) Melakukan latihan-latihan fisik dan militer;
(6) Menjadikan bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam pendidikan. Bahasa Jepang menjadi bahasa yang juga wajib diajarkan.
Setelah Februari 1942 menyerang Sumatera Selatan, Jepang selanjutnya menyerang Jawa dan akhirnya memaksa Belanda menyerah pada Maret 1942. Sejak itulah Jepang kemudian menerapkan beberapa kebijakan terkait pendidikan yang memiliki implikasi luas terutama bagi sistem pendidikan di era kemerdekaan. Hal-hal tersebut antara lain:
 (1) Dijadikannya Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pengantar pendidikan menggantikan Bahasa Belanda;
(2) Adanya integrasi sistem pendidikan dengan dihapuskannya sistem pendidikan berdasarkan kelas sosial di era penjajahan Belanda.
Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang itu kemudian dapat diikhtisarkan sebagai berikut:
(1) Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
(2) Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
(3) Pendidikan Kejuruan. Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
(4) Pendidikan Tinggi.
Guna memperoleh dukungan tokoh pribumi, Jepang mengawalinya dengan menawarkan konsep Putera Tenaga Rakyat di bawah pimpinan Soekarno, M. Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan K.H. Mas Mansur pada Maret 1943. Konsep ini dirumuskan setelah kegagalan the Triple Movement yang tidak menyertakan wakil tokoh pribumi. Tetapi PTR akhirnya mengalami nasib serupa setahun kemudian. Pasca ini, Jepang tetap merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai penasehat bidang pendidikan mereka. Upaya Jepang mengambil tenaga pribumi ini dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem pendidikan mereka di Manchuria dan China yang menerapkan sistem Nipponize (Jepangisasi). Karena itulah, di Indonesia mereka mencobakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum berorientasi lokal. Sekalipun patut dicatat bahwa pada menjelang akhir masa pendudukannya, ada indikasi kuat Jepang untuk menerapkan sistem Nipponize kembali, yakni dengan dikerahkannya Sendenbu (propagator Jepang) untuk menanamkan ideologi yang diharapkan dapat menghancurkan ideologi Indonesia Raya.
Jepang juga memandang perlu melatih guru-guru agar memiliki keseragaman pengertian tentang maksud dan tujuan pemerintahannya. Materi pokok dalam latihan tersebut antara lain: (1) Indoktrinasi ideologi Hakko Ichiu;
(2) Nippon Seisyin, yaitu latihan kemiliteran dan semangat Jepang;
(3) Bahasa, sejarah dan adat-istiadat Jepang;
(4) Ilmu bumi dengan perspektif geopolitis; serta
(5) Olaharaga dan nyanyian Jepang. Sementara untuk pembinaan kesiswaan, Jepang mewajibkan bagi setiap murid sekolah untuk rutin melakukan beberapa aktivitas berikut ini: (1) Menyanyikan lagi kebangsaan Jepang, Kimigayo setiap pagi;
(2) Mengibarkan bendera Jepang, Hinomura dan menghormat Kaisar Jepang, Tenno Heika setiap pagi;
(3) setiap pagi mereka juga harus melakukan Dai Toa, bersumpah setia kepada cita-cita Asia Raya;
(4) Setiap pagi mereka juga diwajibkan melakukan Taiso, senam Jepang;
(5) Melakukan latihan-latihan fisik dan militer;
(6) Menjadikan bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam pendidikan. Bahasa Jepang menjadi bahasa yang juga wajib diajarkan.
Sejarah telah membuktikan, bahwa bengsa Jepang yang kemajuannya memukau dunia ini, dahulu asalnya dari “Meijirestorasi”  yang memajukan pendidikan bangsa Jepang lebih dahulu dari bidang manapun juga.
Setelah banyak kejadian berlalu. Akhirnya sekolah-sekolah yang sudah lama ditutup dibuka kembali. Bahasa Belanda dan Inggris dilarang diganti dengan pelajaran bahasa Nippon dengan huruf katakana dan kanji. Untuk bahasa Indonesia dipakai sebgai bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan dipergunakan di kantor-kantor.
Dengan semakin parahnya keadaan bangsa Indonesia sehingga meletus dengan hebatnya semangat revolusi bangsa Indonesia. Dan akhirnya pada tanggal 17 agustus 1945 jam 10.00 Negara Indonesia Merdeka diproklamasikan.
Walaupun Jepang meninggalkan riwayat yang tidak baik di Indonesia, penuh dengan kebohongan dan kekejaman, namun harus diakui pula bahwa dalam beberapa hal mereka membawa kebaikan juga bagi perkembangan masyarakat Indonesia.
Pertama : Hal cinta kepada Tanah Air tidak lagi hanya tinggal di bibir saja. Bangsa Indonesia bersedia mengorbankan segala-galanya, jiwa dan raganya, untuk menentang tiap gangguan terhadap Tanah Airnya.
Kedua : Rasa harga diri tumbuh dan Nampak benar pada masyarakat Indonesia dan menentang tiap-tiap sikap yang dapat merugikan dan mengurangi kehormatan Bangsa dan Tanah Air.
Maka bangsa Indonesia tidak dapat lagi secara cemooh dijuluki sebagai “Bangsa yang paling lemah lembut di dunia”.
PERTANYAAN,
1.Apakah sudah ada pendidikan guru?
Jawab: Ada,terdapat tiga(3)jenis pendidikan guru pada masa pendudukan jepang:
            1.Sekolah guru 2 tahun(SYATO SIHAN GAKKO)
            2.Sekolah guru 4 tahun (GUTO SIHAN GAKKO)
            3.Sekolah guru 6 tahun (KATO SIHAN GAKKO)
Sistem persekolahan jaman penjajahan jepang ini mirip dengan sisitem persekolahan pada masa indonesia merdeka.Guru dilatih secara terpusat di Jakarta setiap kabupaten mengirim beberapa guru,setelah kembali dari pelatihan di Jakarta mereka melatih teman-temannya didaerah masing-masing.
Bahan pelatihan yang diberikan:
1.Indoktrinasi mental HAKKO I-CHIU,dalam rangka kemakmuran bersama di Asia Raya.
2.Latihan kemiliteran dan semangat Jepang(NIPPON SEISYIN)
3.Bahasa dan sejarah jepang beserta adat istiadatnya
4.Ilmu bumi Geopolitis dan
5.Olahraga,lagu-lagu dan nyanyian jepang(KIMIGAYO)

2.Apakah pendidikan dilakukan seseorang,siapa dan dimana tempatnya?
Jawab:Tidak dilakukan seseorang namun telah disiasati oleh jepang yang pada akhirnya untuk kepentingan jepang itu sendiri
Jepang pada masa itu berusaha menarik hati bangasa Indonesia dengan propaganda dengan demikian Jepang memeberi kesempatan bangsa Indonesia untuk bergabung dengan jepang,demi memenangkan perang maka jepang dan tentara Indonesia memberikan pendidikan guru yang dilatih secara terpusat di Jakarta.

terorisme


Terorisme poso


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.
Pada 1999-2000, terjadi pertikaian antara kelompok muslim dan Kristen di Poso.Karena tertekan oleh Kelompok Kristen,sejumlah pemuda muslim setempat mengikuti pelatihan dengan menggunakan senjata untuk membela diri. Para pemuda terlatih ini kemudian menjadi tameng yang membela komunitasnya. Dengan sendirinya, selepas konflik, mereka pun jadi panutan, hingga sekarang. Walhasil, ketika polisi menyerbu rumah-rumah mereka untuk melakukan penangkapan, warga dengan sadar membalas dan bahkan melindungi mereka.
Ada faktor lain yang juga berpengaruh pada aksi itu. Perlawanan warga juga dipengaruhi oleh kemarahan yang terpendam terhadap polisi.Warga gerah dengan tindakan pengamanan yang dilakukan polisi di Poso. , dalam melakukan pengamanan, polisi kerap menciptakan situasi mencekam yang tidak disukai warga.
Dusun Tamanjeka dan Weralulu,Poso diduga dihuni orang-orang yang terkait kelompok teroris dan sebagai tempat pelatihan.Karena ditemukannya banyak ranjau dan bom saat dilakukan penyisiran menuju ke gunung biru.
Poso sejauh ini merupakan tempat stategis berkembangnya para terorisme,karena sepanjang tahun 2012 ini pusat kegiatan teroris berada dikawasan tersebut dan didukung oleh beberapa factor diatas,harus ada dukungan dan tindakan beberapa fihak agar tidak menjadi berkembang kegiatan tersebut.


           
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa penengertian teroris?
2.      Bagaimana kronologis BOM di POSO?
3.      Bagaimana jaringan teroris di Indonesia hingga  saat ini ?
4.      Bagaimana cara agar terhindar dari pengaruh teroris?
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui pengertian teroris.
2.      Mengetahui kronologis  BOM di POSO.
3.      mengetahui jaringan teroris di Indonesia saat ini.
5.      Mengetahui cara agar terhindar dari pengaruh teroris.











BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teroris
Kata teror pertama kali dikenal pada zaman Revolusi Prancis. Diakhir abad ke-19, awal abad ke-20 dan menjelang PD-II, terorisme menjadi teknik perjuangan revolusi. Misalnya, dalam rejim Stalin pada tahun 1930-an yang juga disebut ”pemerintahan teror”. Di era perang dingin, teror dikaitkan dengan ancaman senjata nuklir.
Kata Terorisme sendiri berasal dari Bahasa Prancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah.
Namun, istilah ”terorisme” sendiri pada 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan. Beberapa pemerintahan bahkan menstigma musuh-musuhnya sebagai ”teroris” dan aksi-aksi mereka disebut ”terorisme”. Istilah ”terorisme” jelas berkonotasi peyoratif, seperti istilah ”genosida” atau ”tirani”. Karena itu istilah ini juga rentan dipolitisasi. Kekaburan definisi membuka peluang penyalahgunaan. Namun pendefinisian juga tak lepas dari keputusan politis.
Menurut konvensi PBB tahun 1939, terorisme adalah segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas.
 Menurut ensiklopeddia Indonesia tahun 2000, terorisme adalah kekerasan atau ancaman kekerasan yang diperhitungkan sedemikian rupa untuk menciptkan suasana ketakutan dan bahaya dengan maksud menarik perhatian nasional atau internasional terhadap suatu aksi maupun tuntutan.
2.2 kronologis terorisme di POSO
Teror bom di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Senin (22/10/2012) pagi, ditengarai masih ada kaitannya dengan penculikan dan pembunuhan dua polisi di Poso serta teror bom di Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Hal itu disampaikan anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan TB Hasanuddin.
Melihat lokasi ledakan dan korbannya, sepertinya pelaku teror menjadikan polisi sebagai targetnya. Teror ini ditengarai ada kaitannya dengan penculikan dan pembunuhan polisi di Poso beberapa waktu lalu juga teror bom dan penembakan polisi di Solo.
Seperti diketahui, pekan lalu, dua polisi yang dilaporkan hilang ditemukan dalam kondisi tewas terkubur. Keduanya adalah Brigadir Sudirman dan Brigadir Andi Sapa. Mereka diduga menjadi korban penculikan jaringan teroris.Ia mendesak agar aparat keamanan mengusut jaringan pelaku teror itu.
Kepala Polres Poso Ajun Komisaris Besar Eko Santoso mengatakan, bom yang meledak di pos polisi lalu lintas di Poso, mengakibatkan seorang anggota polisi lalu lintas, Bripda Rusliadi; dan seorang satpam Bank Rakyat Indonesia, Muhammad Akbar, terluka. Eko mengatakan, bom tersebut meledak dua kali. Kejadian sekitar pukul 06.15, bertempat di pos lalu lintas.Ledakan bom terjadi sebanyak dua kali.saat peristiwa terjadi, Bripda Rusliadi sedang melakukan pengamanan lalu lintas rutin. Pagi itu, kondisi di sekitar lokasi belum terlalu ramai. Ledakan pun terjadi dan menyebabkan Rusliadi terluka di bagian tangan dan bokong. Sementara itu, satpam BRI yang tengah melintas ikut menjadi korban.Kedua korban saat ini menjalani perawatan di RSUD Poso. Selain korban luka, pos polisi lalu lintas tersebut juga mengalami kerusakan, yakni tembok retak pada bagian belakang dan kaca jendela belakang pecahBom diduga ditaruh di belakang pos. Saksi dua orang, tapi saksi yang melihat memasang (bom) belum ketemu.

Ledakan ini diduga terkait serangkaian ledakan bom sebelumnya yang terjadi di Poso. Sebelumnya, ledakan terjadi di depan rumah pegawai Dinas Pekerjaan Umum, Okri Mamuaya, di Kelurahan Kawua, Poso Kota Selatan, pada Selasa (9/10/2012) sekitar pukul 20.15. Di hari yang sama, ledakan juga terjadi pukul 21.15 Wita di sekitar Komplek Pertigaan Gereja Imanuel Taripa, Kecamatan Pamona Timur, Kabupaten Poso. Saat itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, ledakan diduga terkait kelompok teror yang melakukan pelatihan militer di Poso.
Aparat kepolisian Polda Sulawesi Tengah dan Detasemen Khusus 88 Antiteror terus mengejar pelaku dan orang-orang yang diduga terlibat penganiayaan hingga tewas dua anggota Polres Poso dan serangkaian kekerasan di Poso. Setidaknya lima orang yang diduga terkait jaringan teroris telah ditangkap. Sejumlah orang lainnya masih terus dalam pengejaran.Kepolisian menemukan dua ranjau bom di kawasan Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Poso Pesisir, Sulawesi Tengah yang terletak di kaki Gunung Biru. Diduga, banyak ranjau bom yang telah dipasang di lokasi menuju pelatihan teroris tersebut.
Diperkirakan cukup banyak ranjau bom khususnya di lokasi Gunung Biru,Seperti diketahui, polisi menemukan dua bahan peledak yang difungsikan sebagai ranjau bom. Bom pertama ditemukan pada Sabtu (27/10/2012) di lereng Gunung Biru. Bom lain ditemukan di pondok kebun milik warga setempat, Minggu (28/10/2012).Yang terakhir itu bobotnya 12 kg, lebih besar dari sebelumnya pada hari Sabtu. Penyisiran Gunung Biru tersebut melibatkan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Brimob, dan TNI. Menurut Boy ada sekitar 400 tim gabungan yang diterjunkan ke lokasi. Ranjau bom tersebut diduga ditujukan untuk tim gabungan yang melakukan penyisiran ke Gunung Biru. Bom itu juga terletak pada jalur yang harus dilalui tim menuju pusat pelatihan teroris ,bom tertanam dalam tanah. Bila terinjak atau terkena beban, maka bom akan meledak. Ranjau berupa bom tersebut diduga belum lama diletakkan.
Bom rakitan yang ditemukan tersebut telah diuraikan tim penjinak bom. Saat ini detonator dan bahan campuran pembuat bom masih dalam penelitian tim Pusat Laboratorium Forensik Polri. Di samping itu, menurut Boy, medan menuju Gunung Biru yang dilalui tim gabungan cukup berat. Penyisiran tersebut juga untuk mencari pelaku pembunuhan dua anggota polisi Poso. Diduga, kelompok teror yang melakukan pelatihan militer di Poso bertanggung jawab atas tewasnya dua polisi tersebut.


2.3 Terorisme di Indonesia
Terorisme di Indonesia merupakan terorisme yang dilakukan oleh grup teror Jemaah Islamiyah yang berhubungan dengan al-Qaeda. Sejak tahun 2002, beberapa "target negara Barat" telah diserang. Korban yang jatuh adalah turis Barat dan juga penduduk Indonesia. Terorisme di Indonesia dimulai tahun 2000 dengan terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta, diikuti dengan empat serangan besar lainnya, dan yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002.
Berikut adalah beberapa kejadian terorisme yang telah terjadi di Indonesia dan instansi Indonesia di luar negeri:
1981
1985
2000
2001
2002
  • Bom Tahun Baru, 1 Januari 2002. Granat manggis meledak di depan rumah makan ayam Bulungan, Jakarta. Satu orang tewas dan seorang lainnya luka-luka. Di Palu, Sulawesi Tengah, terjadi empat ledakan bom di berbagai gereja. Tidak ada korban jiwa.
  • Bom Bali, 12 Oktober 2002. Tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi Utara, bom rakitan juga meledak di kantor Konjen Filipina, tidak ada korban jiwa.
  • Bom restoran McDonald's, Makassar, 5 Desember 2002. Bom rakitan yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran McDonald's Makassar. 3 orang tewas dan 11 luka-luka.

2003
2004
2005
  • Dua Bom meledak di Ambon pada 21 Maret 2005
  • Bom Tentena, 28 Mei 2005. 22 orang tewas.
  • Bom Pamulang, Tangerang, 8 Juni 2005. Bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.
  • Bom Bali, 1 Oktober 2005. Bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman CafĂ© Jimbaran.
  • Bom Pasar Palu, 31 Desember 2005. Bom meledak di sebuah pasar di Palu, Sulawesi Tengah yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang.

2009
2010
2011
2012
·       Bom poso yang kita bicarakan sekarang.






2.4 Cara Agar Terhindar Dari Pengaruh Terorisme
Dalam rangka memerangi aksi terorisme, secara umum diperlukan persyaratan kesiapan yang meliputi :
(1)  kesiapan dibidang politik, yakni perlunya dukungan masyarakat secara penuh bahwa terorisme adalah musuh bangsa dan negara yang harus dihadapi oleh segenap bangsa;
(2)  kesiapan dibidang hukum, peraturan perudangan dibidang pemberantasan terorisme merupakan agenda mutlak, karena hukum ini akan memberikan kekuatan kepada semua pihak untuk menjerat pelaku terorisme, disadari bahwa hukum untuk menghadapi aksi teror kurang sejalan dengan semangat demokrasi dan HAM;
(3)  kesiapan bidang operasional, yakni menuntut kesiapan adanya satuan antiteror dan Litbang teror, bekerjasama dengan semua pihak, permasalahannya adalah belum adanya aturan baku atau prosedur tetap yang baku dan mengikat semua pihak.
Masyarakat harus lebih menyadari tentang keadaan dirinya, menyadari proses yang dirinya sedang terlibat saat itu. Untuk teknik lowball, biasanya yang diserang adalah orang bertipe mudah merasa bersalah. Jadi saat diminta untuk berbuat sesuatu, tidak bisa menolak.
Tak jauh beda dengan teknik lowball, teknik sugesti juga harus diwaspadai. Kuncinya, masyarakat memang harus meningkatkan kesadaran diri. “Bila ada orang asing yang memberikan perhatian berlebihan, jangan ragu-ragu menolak. Biasanya pelaku-pelaku kejahatan tersebut mensugesti kita menuju ketenangan, bisa dengan memberikan kue atau bahkan mengajak ke suatu tempat.





BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terorisme adalah kekerasan atau ancaman kekerasan yang diperhitungkan sedemikian rupa untuk menciptkan suasana ketakutan dan bahaya dengan maksud menarik perhatian nasional atau internasional terhadap suatu aksi maupun tuntutan.
Ciri-ciri terorisme adalah :
1.      Organisasi yang baik, berdisiplin tinggi & militant
2.     Mempunyai tujuan politik, ideologi tetapi melakukan kejahatan kriminal untuk mencapai tujuan.
3.     Tidak mengindahkan norma-norma universal yang berlaku, seperti agama, hukum dan HAM.
4.     Memilih sasaran yang menimbulkan efek psikologis yang tinggi untuk menimbulkan rasa takut dan mendapatkan publikasi yang luas.
5.     Menggunakan cara-cara antara lain seperti : pengeboman, penculikan, penyanderaan, pembajakan dan sebagainya yang dapat menarik perhatian massa/publik Bentuk-bentuk Terorisme:
  Dilihar dari cara-cara yang digunakan :
1) Teror Fisik
2) Teror Mental
  Dilihat dari Skala sasaran teror :
1) Teror Nasional
2) Teror Internasional
a) Dari Pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Dalam bentuk penjajahan, invansi, intervensi, agresi dan perang terbuka.
b) Dari Pihak yang Lemah kepada Pihak yang kuat. Dalam bentuk pembajakan, gangguan keamanan internasional, sabotase, tindakan nekat dan berani mati, pasukan bunuh diri, dsb.
Dalam rangka memerangi aksi terorisme, secara umum diperlukan persyaratan kesiapan yang meliputi :
(1) kesiapan dibidang politik
(2) kesiapan dibidang hukum
(3) kesiapan bidang operasional


3.2 Saran
Setiap tindakan kaum teroris adalah tindakan kriminal. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat yang mempunyai moral, pendidikan, dan etika sudah selayaknya tidak terjerumus hal-hal yang berhubungan dengan tindakan terorisme ataupun tindakan kriminal lainnya.Kita harus bentengi diri kita dengan iman yang kuat serta menjunjung tinggi ideology bangsa kita yaitu pancasila sebagai nilai-nilai yang patut kita kembangkan. Selain itu, penyuluhan terhadap bahaya terorisme di sekitar kita perlu diadakan untuk antisipasi terpengaruhnya masyarakat awam terhadap terorisme.






DAFTAR PUSTAKA

Charles, Handy. 2011. Era Paradoks. Jakarta: Global Paradoks
Suara Merdeka, 23 Oktoberl 2012. “Poso Diguncang Dua Bom”. Halaman 2
Kompas, 23 Oktoberl 2012. “Bom Poso Kembali Terjadi”. Halaman 1
Inggried “Sejarah Bom Poso” (Online)
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0103/11/Bom/poso.htm. (diakses 20 oktober 2012)
http://bahasa.kompasiana.com/2010/10/27/definisi-terorisme- bang-foke