Terorisme poso
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terorisme adalah serangan-serangan
terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok
masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara
peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban
jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.
Pada 1999-2000,
terjadi pertikaian antara kelompok muslim dan Kristen di Poso.Karena tertekan
oleh Kelompok Kristen,sejumlah pemuda muslim setempat mengikuti pelatihan
dengan menggunakan senjata untuk membela diri. Para pemuda terlatih ini
kemudian menjadi tameng yang membela komunitasnya. Dengan sendirinya, selepas
konflik, mereka pun jadi panutan, hingga sekarang. Walhasil, ketika polisi
menyerbu rumah-rumah mereka untuk melakukan penangkapan, warga dengan sadar membalas
dan bahkan melindungi mereka.
Ada faktor lain yang
juga berpengaruh pada aksi itu. Perlawanan warga juga dipengaruhi oleh
kemarahan yang terpendam terhadap polisi.Warga gerah dengan tindakan pengamanan
yang dilakukan polisi di Poso. , dalam melakukan pengamanan, polisi kerap
menciptakan situasi mencekam yang tidak disukai warga.
Dusun Tamanjeka dan Weralulu,Poso diduga
dihuni orang-orang yang terkait kelompok teroris dan sebagai tempat pelatihan.Karena
ditemukannya banyak ranjau dan bom saat dilakukan penyisiran menuju ke gunung
biru.
Poso sejauh ini merupakan tempat stategis
berkembangnya para terorisme,karena sepanjang tahun 2012 ini pusat kegiatan
teroris berada dikawasan tersebut dan didukung oleh beberapa factor
diatas,harus ada dukungan dan tindakan beberapa fihak agar tidak menjadi
berkembang kegiatan tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
penengertian teroris?
2.
Bagaimana kronologis BOM di POSO?
3.
Bagaimana jaringan teroris di Indonesia hingga saat ini ?
4.
Bagaimana cara agar terhindar dari pengaruh teroris?
1.3 Tujuan
1.
Mengetahui pengertian teroris.
2. Mengetahui
kronologis BOM di POSO.
3.
mengetahui jaringan teroris di Indonesia saat ini.
5.
Mengetahui cara agar terhindar dari pengaruh teroris.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teroris
Kata teror pertama kali dikenal pada
zaman Revolusi Prancis. Diakhir abad ke-19, awal abad ke-20 dan menjelang
PD-II, terorisme menjadi teknik perjuangan revolusi. Misalnya, dalam rejim
Stalin pada tahun 1930-an yang juga disebut ”pemerintahan teror”. Di era perang
dingin, teror dikaitkan dengan ancaman senjata nuklir.
Kata Terorisme sendiri berasal dari
Bahasa Prancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan
pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal
dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan
kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata terorisme dipergunakan untuk
menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata
terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh
pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah.
Namun, istilah ”terorisme” sendiri
pada 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di
tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan. Beberapa
pemerintahan bahkan menstigma musuh-musuhnya sebagai ”teroris” dan aksi-aksi
mereka disebut ”terorisme”. Istilah ”terorisme” jelas berkonotasi peyoratif,
seperti istilah ”genosida” atau ”tirani”. Karena itu istilah ini juga rentan
dipolitisasi. Kekaburan definisi membuka peluang penyalahgunaan. Namun
pendefinisian juga tak lepas dari keputusan politis.
Menurut konvensi PBB tahun 1939,
terorisme adalah segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada
negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu
atau kelompok orang atau masyarakat luas.
Menurut ensiklopeddia
Indonesia tahun 2000, terorisme adalah kekerasan atau ancaman kekerasan yang
diperhitungkan sedemikian rupa untuk menciptkan suasana ketakutan dan bahaya
dengan maksud menarik perhatian nasional atau internasional terhadap suatu aksi
maupun tuntutan.
2.2
kronologis terorisme di POSO
Teror bom di Poso, Sulawesi Tengah
(Sulteng), Senin (22/10/2012) pagi, ditengarai masih ada kaitannya dengan
penculikan dan pembunuhan dua polisi di Poso serta teror bom di Solo, Jawa
Tengah, beberapa waktu lalu. Hal itu disampaikan anggota Komisi I DPR dari
Fraksi PDI Perjuangan TB Hasanuddin.
Melihat lokasi ledakan dan korbannya,
sepertinya pelaku teror menjadikan polisi sebagai targetnya. Teror ini
ditengarai ada kaitannya dengan penculikan dan pembunuhan polisi di Poso
beberapa waktu lalu juga teror bom dan penembakan polisi di Solo.
Seperti diketahui, pekan lalu, dua polisi
yang dilaporkan hilang ditemukan dalam kondisi tewas terkubur. Keduanya adalah
Brigadir Sudirman dan Brigadir Andi Sapa. Mereka diduga menjadi korban
penculikan jaringan teroris.Ia mendesak agar aparat keamanan mengusut jaringan
pelaku teror itu.
Kepala Polres Poso Ajun Komisaris Besar Eko Santoso
mengatakan, bom yang meledak di pos polisi lalu lintas di Poso, mengakibatkan
seorang anggota polisi lalu lintas, Bripda Rusliadi; dan seorang satpam Bank
Rakyat Indonesia, Muhammad Akbar, terluka. Eko mengatakan, bom tersebut meledak
dua kali. Kejadian sekitar pukul 06.15, bertempat di pos lalu lintas.Ledakan
bom terjadi sebanyak dua kali.saat peristiwa terjadi, Bripda Rusliadi sedang
melakukan pengamanan lalu lintas rutin. Pagi itu, kondisi di sekitar lokasi
belum terlalu ramai. Ledakan pun terjadi dan menyebabkan Rusliadi terluka di
bagian tangan dan bokong. Sementara itu, satpam BRI yang tengah melintas ikut
menjadi korban.Kedua korban saat ini menjalani perawatan di RSUD Poso. Selain
korban luka, pos polisi lalu lintas tersebut juga mengalami kerusakan, yakni
tembok retak pada bagian belakang dan kaca jendela belakang pecahBom diduga
ditaruh di belakang pos. Saksi dua orang, tapi saksi yang melihat memasang
(bom) belum ketemu.
Ledakan ini diduga terkait serangkaian
ledakan bom sebelumnya yang terjadi di Poso. Sebelumnya, ledakan terjadi di
depan rumah pegawai Dinas Pekerjaan Umum, Okri Mamuaya, di Kelurahan Kawua,
Poso Kota Selatan, pada Selasa (9/10/2012) sekitar pukul 20.15. Di hari yang
sama, ledakan juga terjadi pukul 21.15 Wita di sekitar Komplek Pertigaan Gereja
Imanuel Taripa, Kecamatan Pamona Timur, Kabupaten Poso. Saat itu, Kepala Biro
Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, ledakan diduga
terkait kelompok teror yang melakukan pelatihan militer di Poso.
Aparat kepolisian Polda Sulawesi Tengah dan
Detasemen Khusus 88 Antiteror terus mengejar pelaku dan orang-orang yang diduga
terlibat penganiayaan hingga tewas dua anggota Polres Poso dan serangkaian
kekerasan di Poso. Setidaknya lima orang yang diduga terkait jaringan teroris
telah ditangkap. Sejumlah orang lainnya masih terus dalam pengejaran.Kepolisian
menemukan dua ranjau bom di kawasan Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Poso Pesisir,
Sulawesi Tengah yang terletak di kaki Gunung Biru. Diduga, banyak ranjau bom
yang telah dipasang di lokasi menuju pelatihan teroris tersebut.
Diperkirakan
cukup banyak ranjau bom khususnya di lokasi Gunung Biru,Seperti diketahui,
polisi menemukan dua bahan peledak yang difungsikan sebagai ranjau bom. Bom
pertama ditemukan pada Sabtu (27/10/2012) di lereng Gunung Biru. Bom lain
ditemukan di pondok kebun milik warga setempat, Minggu (28/10/2012).Yang
terakhir itu bobotnya 12 kg, lebih besar dari sebelumnya pada hari Sabtu. Penyisiran
Gunung Biru tersebut melibatkan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Brimob,
dan TNI. Menurut Boy ada sekitar 400 tim gabungan yang diterjunkan ke lokasi.
Ranjau bom tersebut diduga ditujukan untuk tim gabungan yang melakukan
penyisiran ke Gunung Biru. Bom itu juga terletak pada jalur yang harus dilalui
tim menuju pusat pelatihan teroris ,bom tertanam dalam tanah. Bila terinjak
atau terkena beban, maka bom akan meledak. Ranjau berupa bom tersebut diduga
belum lama diletakkan.
Bom rakitan
yang ditemukan tersebut telah diuraikan tim penjinak bom. Saat ini detonator
dan bahan campuran pembuat bom masih dalam penelitian tim Pusat Laboratorium
Forensik Polri. Di samping itu, menurut Boy, medan menuju Gunung Biru yang
dilalui tim gabungan cukup berat. Penyisiran tersebut juga untuk mencari pelaku
pembunuhan dua anggota polisi Poso. Diduga, kelompok teror yang melakukan pelatihan
militer di Poso bertanggung jawab atas tewasnya dua polisi tersebut.
2.3 Terorisme di Indonesia
Terorisme di
Indonesia merupakan terorisme yang dilakukan oleh grup teror Jemaah Islamiyah
yang berhubungan dengan al-Qaeda. Sejak tahun 2002, beberapa "target
negara Barat" telah diserang. Korban yang jatuh adalah turis Barat dan
juga penduduk Indonesia. Terorisme di Indonesia dimulai tahun 2000 dengan
terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta, diikuti dengan empat serangan besar lainnya,
dan yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002.
Berikut adalah beberapa kejadian
terorisme yang telah terjadi di Indonesia dan instansi Indonesia di luar negeri:
1981
- Garuda Indonesia Penerbangan
206, 28
Maret 1981. Sebuah penerbangan maskapai Garuda Indonesia dari Palembang ke Medan pada
Penerbangan dengan pesawat DC-9 Woyla berangkat dari Jakarta pada pukul 8 pagi, transit di Palembang, dan akan terbang ke Medan
dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55. Dalam penerbangan, pesawat
tersebut dibajak oleh 5 orang teroris yang menyamar sebagai penumpang. Mereka
bersenjata senapan mesin dan granat, dan
mengaku sebagai anggota Komando
Jihad. 1 kru pesawat tewas, 1
tentara komando tewas, 3 teroris tewas.
1985
- Bom Candi Borobudur 1985, 21 Januari 1985. Peristiwa terorisme ini adalah peristiwa terorisme bermotif
"jihad" kedua yang menimpa Indonesia.
2000
- Bom Kedubes Filipina, 1 Agustus 2000. Bom meledak dari sebuah mobil yang diparkir di depan rumah Duta
Besar Filipina, Menteng, Jakarta Pusat. 2 orang tewas dan 21 orang lainnya
luka-luka, termasuk Duta Besar Filipina Leonides T Caday.
- Bom
Kedubes Malaysia, 27
Agustus 2000. Granat meledak di
kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
- Bom Bursa Efek Jakarta, 13 September 2000. Ledakan mengguncang lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta. 10 orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat,
57 rusak ringan.
- Bom malam Natal, 24 Desember 2000. Serangkaian ledakan bom pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96
lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak.
2001
- Bom
Gereja Santa Anna dan HKBP, 22
Juli 2001. di Kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, 5 orang tewas.
- Bom Plaza Atrium Senen
Jakarta, 23
September 2001. Bom meledak di
kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera.
- Bom
restoran KFC, Makassar, 12
Oktober 2001. Ledakan bom
mengakibatkan kaca, langit-langit, dan neon sign KFC pecah. Tidak
ada korban jiwa. Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life
cabang Makassar tidak meledak.
- Bom
sekolah Australia, Jakarta, 6
November 2001. Bom rakitan meledak
di halaman Australian International School (AIS), Pejaten, Jakarta.
2002
- Bom Tahun Baru, 1 Januari 2002. Granat manggis meledak di depan rumah makan ayam Bulungan, Jakarta.
Satu orang tewas dan seorang lainnya luka-luka. Di Palu, Sulawesi Tengah,
terjadi empat ledakan bom di berbagai gereja. Tidak ada korban jiwa.
- Bom Bali, 12 Oktober 2002. Tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi Utara, bom rakitan juga meledak di kantor Konjen Filipina, tidak ada korban jiwa.
- Bom restoran McDonald's,
Makassar, 5 Desember 2002. Bom rakitan yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran
McDonald's Makassar. 3 orang tewas dan 11 luka-luka.
2003
- Bom
Kompleks Mabes Polri, Jakarta, 3
Februari 2003, Bom rakitan meledak di lobi Wisma Bhayangkari, Mabes Polri Jakarta.
Tidak ada korban jiwa.
- Bom Bandara Soekarno-Hatta,
Jakarta, 27
April 2003. Bom meledak dii area
publik di terminal 2F, bandar udara internasional Soekarno-Hatta,
Cengkareng, Jakarta. 2 orang luka berat dan 8 lainnya luka sedang dan
ringan.
- Bom JW Marriott, 5 Agustus 2003. Bom menghancurkan sebagian Hotel JW Marriott. Sebanyak 11 orang meninggal, dan 152 orang lainnya mengalami
luka-luka.
2004
- Bom Palopo, 10 Januari 2004. Menewaskan empat orang.
- Bom Kedubes Australia, 9 September 2004. Ledakan besar terjadi di depan Kedutaan Besar Australia. 5 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Ledakan juga
mengakibatkan kerusakan beberapa gedung di sekitarnya seperti Menara Plaza
89, Menara Grasia, dan Gedung BNI.
- Ledakan bom di Gereja
Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah pada 12 Desember 2004.
2005
- Dua Bom meledak di Ambon pada 21 Maret 2005
- Bom Tentena, 28
Mei 2005. 22 orang tewas.
- Bom
Pamulang, Tangerang, 8
Juni 2005. Bom meledak di
halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu
Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.
- Bom Bali, 1 Oktober 2005. Bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas
dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA's Bar dan
Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.
- Bom Pasar Palu, 31 Desember 2005. Bom meledak di sebuah pasar di Palu, Sulawesi Tengah yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang.
2009
- Bom Jakarta, 17
Juli 2009. Dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Ledakan terjadi hampir bersamaan, sekitar pukul 07.50 WIB.
2010
- Penembakan
warga sipil di Aceh Januari 2010
- Perampokan bank CIMB Niaga September 2010
2011
- Bom Cirebon, 15 April 2011. Ledakan bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon saat Salat Jumat yang menewaskan pelaku dan melukai 25 orang lainnya.
- Bom Gading Serpong, 22 April 2011. Rencana bom yang menargetkan Gereja Christ Cathedral Serpong, Tangerang Selatan, Banten dan diletakkan di jalur pipa gas, namun berhasil digagalkan pihak Kepolisian
RI
- Bom Solo, 25 September 2011. Ledakan bom bunuh diri di GBIS
Kepunton, Solo, Jawa Tengah usai kebaktian dan jemaat keluar dari gereja. Satu orang pelaku bom
bunuh diri tewas dan 28 lainnya terluka.
2012
· Bom
poso yang kita bicarakan sekarang.
2.4 Cara Agar Terhindar Dari
Pengaruh Terorisme
Dalam rangka memerangi aksi
terorisme, secara umum diperlukan persyaratan kesiapan yang meliputi :
(1) kesiapan dibidang politik, yakni perlunya
dukungan masyarakat secara penuh bahwa terorisme adalah musuh bangsa dan negara
yang harus dihadapi oleh segenap bangsa;
(2) kesiapan dibidang hukum, peraturan perudangan
dibidang pemberantasan terorisme merupakan agenda mutlak, karena hukum ini akan
memberikan kekuatan kepada semua pihak untuk menjerat pelaku terorisme,
disadari bahwa hukum untuk menghadapi aksi teror kurang sejalan dengan semangat
demokrasi dan HAM;
(3) kesiapan bidang operasional, yakni menuntut
kesiapan adanya satuan antiteror dan Litbang teror, bekerjasama dengan semua
pihak, permasalahannya adalah belum adanya aturan baku atau prosedur tetap yang
baku dan mengikat semua pihak.
Masyarakat harus lebih menyadari
tentang keadaan dirinya, menyadari proses yang dirinya sedang terlibat saat
itu. Untuk teknik lowball, biasanya yang diserang adalah orang bertipe mudah
merasa bersalah. Jadi saat diminta untuk berbuat sesuatu, tidak bisa menolak.
Tak jauh beda dengan teknik lowball,
teknik sugesti juga harus diwaspadai. Kuncinya, masyarakat memang harus
meningkatkan kesadaran diri. “Bila ada orang asing yang memberikan perhatian
berlebihan, jangan ragu-ragu menolak. Biasanya pelaku-pelaku kejahatan tersebut
mensugesti kita menuju ketenangan, bisa dengan memberikan kue atau bahkan
mengajak ke suatu tempat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terorisme adalah kekerasan atau
ancaman kekerasan yang diperhitungkan sedemikian rupa untuk menciptkan suasana
ketakutan dan bahaya dengan maksud menarik perhatian nasional atau
internasional terhadap suatu aksi maupun tuntutan.
Ciri-ciri terorisme adalah :
1.
Organisasi yang baik, berdisiplin tinggi & militant
2. Mempunyai
tujuan politik, ideologi tetapi melakukan kejahatan kriminal untuk mencapai
tujuan.
3. Tidak
mengindahkan norma-norma universal yang berlaku, seperti agama, hukum dan HAM.
4. Memilih
sasaran yang menimbulkan efek psikologis yang tinggi untuk menimbulkan rasa
takut dan mendapatkan publikasi yang luas.
5. Menggunakan
cara-cara antara lain seperti : pengeboman, penculikan, penyanderaan,
pembajakan dan sebagainya yang dapat menarik perhatian massa/publik
Bentuk-bentuk Terorisme:
Dilihar dari cara-cara yang
digunakan :
1) Teror Fisik
2) Teror Mental
Dilihat dari Skala sasaran
teror :
1) Teror Nasional
2) Teror Internasional
a) Dari Pihak yang kuat kepada pihak
yang lemah. Dalam bentuk penjajahan, invansi, intervensi, agresi dan perang
terbuka.
b) Dari Pihak yang Lemah kepada
Pihak yang kuat. Dalam bentuk pembajakan, gangguan keamanan internasional,
sabotase, tindakan nekat dan berani mati, pasukan bunuh diri, dsb.
Dalam rangka memerangi aksi
terorisme, secara umum diperlukan persyaratan kesiapan yang meliputi :
(1) kesiapan dibidang politik
(2) kesiapan dibidang hukum
(3) kesiapan bidang operasional
3.2 Saran
Setiap tindakan kaum teroris adalah
tindakan kriminal. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat yang mempunyai
moral, pendidikan, dan etika sudah selayaknya tidak terjerumus hal-hal yang
berhubungan dengan tindakan terorisme ataupun tindakan kriminal lainnya.Kita
harus bentengi diri kita dengan iman yang kuat serta menjunjung tinggi ideology
bangsa kita yaitu pancasila sebagai nilai-nilai yang patut kita kembangkan.
Selain itu, penyuluhan terhadap bahaya terorisme di sekitar kita perlu diadakan
untuk antisipasi terpengaruhnya masyarakat awam terhadap terorisme.
DAFTAR PUSTAKA
Charles,
Handy. 2011. Era Paradoks. Jakarta:
Global Paradoks
Suara Merdeka, 23 Oktoberl 2012. “Poso
Diguncang Dua Bom”. Halaman 2
Kompas, 23 Oktoberl 2012. “Bom Poso
Kembali Terjadi”. Halaman 1
Inggried “Sejarah Bom Poso” (Online)
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0103/11/Bom/poso.htm. (diakses 20 oktober 2012)
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0103/11/Bom/poso.htm. (diakses 20 oktober 2012)
http://bahasa.kompasiana.com/2010/10/27/definisi-terorisme-
bang-foke
Tidak ada komentar:
Posting Komentar